Crazylliant

Bekerja bersama orang gila. Kali ini kata “gila” tidak memakai tanda kutip seperti yang ditulis Satria. Sebenarnya aku juga sulit mendeskripsikan orang gila ini. Kadang kami (aku tulis kami, karena kami mengakuinya) memang benar-benar gila, selain kami “gila” dengan pekerjaan kami. Sebenarnya aku lebih senang menggunakan kata “Crazylliant”, gabungan dari crazy dan brilliant. Yah, mungkin ini aku mengada-ada saja, tapi ini yang aku kenali dari orang-orang ini.

Sebelumnya, aku adalah Filipus Septian Prajoko. Mereka biasa memanggilku Tian. Aku salah satu orang yang mencintai Scientiarum dan aku salah satu orang gila di dalamnya. Maksudku, salah satu dari orang-orang Crazylliant ini. Aku menyebut diriku crazy karena aku ingin selalu berada di Scientiarum walaupun aku tidak tahu apa tepatnya yang harus aku lakukan. Bahkan aku sempat berfikir aku sengaja akan mengulur skripsiku satu trimester lagi dan siap menerima nyanyian orangtuaku. Aku juga menyebut diriku brilliant karena belum lama bergabung aku langsung menjadi editor foto, setelah itu aku menjadi pemimpin divisi litbang–sebenarnya, aku nyaris menjadi pemimpin umum. Betapa briliannya diriku! Jujur saja, itu semua karena pada saat itu SDM kami kurang, bukan karena skill yang aku punya, LOL. Tentang diriku nanti saja, tidak penting sebenarnya.

Reorganisasi waktu itu tidak diikuti semua orang. Pada saat rapat reorganisasi, posisi litbang yang waktu diisi oleh Geritz Febrianto sekarang kosong, karena kabar terakhir dia mengundurkan diri. Saat itu tinggal beberapa orang yang tidak mempuyai tugas struktural, termasuk aku. Entah malaikat atau setan yang membisikkan aku untuk mengisi posisi litbang–bahkan aku sendiri yang menulisnya. Beberapa menit kemudian aku baru sadar, aku sudah gila. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan litbang. Kemudian aku mendengar suara: “Aku masuk litbang aja.” Aku hafal suara itu: Satria Anandita. Ini dia penyelamatku, aku yakin itu. Sangat yakin. Dia orang yang brilian. Entah kata apa yang tepat ditambahkan di depan kata brilian, yang menyatakan bahwa semua orang tahu dia brilian.

Kemudian aku meminta nama Satria ada di atas nama Tian, maksudku untuk menjadikan dia pemimpin litbang. Satria pun sadar permintaan dan maksud aku. Tanpa pikir panjang Satria menjawab, “Jangan aku, kamu aja. Soalnya ekorku ga bisa dipegang.” Saat itu aku sadar bahwa dia bukan penyelamat aku. Aku juga yakin itu. Aku bingung saat itu, masih tidak yakin akan posisi pemimpin litbang. “Litbang kan isinya orang gila,” begitu Satria bilang. Aku pasrah, bagaimana bisa dua orang yang merasa diri mereka gila berada dalam satu bidang, penelitian dan pengembangan! Ini benar-benar gila. Jika bukan karena skripsi, aku lebih baik menjadi pemimpin umum. Yah, setidaknya aku hanya mendapat laporan, mempelajarinya, dan mempertanggungjawabkannya. Mudah kan? Ingat, aku ini gila. “Kalo Satria ekornya ga bisa dipegang, aku kepalanya ke mana-mana,” jawabku sambil tertawa. Hanya itu gurauan terbaik sebagai ungkapan lain dari: “Litbang kayaknya ga akan jalan. Maklumlah, kami kan gila.”

Beberapa hari setelah rapat reorganisasi, aku mendengar bahwa ada orang-orang brilian akan masuk Scientiarum. Aku mengenal nama-nama itu, mereka brilian. Sore hari sebelum rapat pertama dimulai, orang-orang ini diwawancarai oleh pemimpin umum dan pemimpin redaksi. Seharusnya ada pemimpin litbang di situ, aku sengaja mengulur waktu datang ke kantor. Alasannya satu, aku malu berada di depan orang-orang brilian dan memosisikan aku sebagai orang yang ikut mempertimbangkan apakah mereka layak di Scientiarum atau tidak. Aku yakin sebenarnya mereka tidak perlu dipertimbangkan untuk bergabung. Aku masuk kantor dan duduk di depan mereka. Ada empat orang, tiga di antaranya aku kenal. Aku tidak berkomentar. Sesuai rencanaku, lima menit kemudian wawancara selesai. Dimulailah rapat bersama teman-teman baru ini. Saat rapat mereka ditanya ingin mencurahkan hasratnya pada divisi redaksi, bisnis atau litbang.

Saat itu ada Febri, mantan pemimpin litbang. Aku baru tahu bahwa dia masih ingin bertahan di Scientiarum dan masih memilih litbang. Aku tidak tahu apa yang mengubah pikirannya untuk kembali ke Scientiarum, tapi aku mendengar kabar bahwa karena bujukan Satria. Dulu, mungkin karena dia gila sendiri sehingga dia keluar, sekarang dia kembali karena mungkin ingin menggila bersama. Biarkan dia yang menjelaskan, ini hanya asumsi gilaku.

Fredy Guty, orang yang lebih dulu “mondar-mandir” di LK daripada aku. Dulu, aku dan dia terlibat perbincangan ringan. Topiknya kebudayaan. Sebagai mahasiswa FISKOM dia lebih banyak bicara, aku mendengarkan dan sesekali aku berargumen. Orang ini brilian, pikirku. Pada saat ditanya pertanyaan itu, dengan sedikit intro akhirnya dia menjawab, “Saya ikut litbang, sama-sama dengan orang gila itu.” Dia menjawab sambil melihat whiteboard yang bertuliskan nama aku dan nama Satria di bawah kata “Divisi Litbang”. Aku senang, sekaligus bingung. Aku senang karena ada orang brilian yang tidak menganggap dirinya gila bersedia masuk litbang. Aku juga bingung, untuk apa dia masuk litbang yang dia sadari isinya orang-orang gila. Waktu itu aku masih bingung tapi juga senang. Belakangan, aku mengerti alasan dia masuk litbang: dia juga menganggap dirinya gila. Kompaklah kami, pikirku.

Wirawan Hari Prasetyo, biasa dipanggil WH atau WeHa, terserah Anda. Aku mengenalnya di sebuah kepanitiaan kecil pada acara sangat besar. Tanggungjawab yang sangat besar ini membuat kami sering berkomunikasi. Dengan gaya bicaranya dan segala gaya lainya, tidak lama aku tahu bahwa dia memang gila. “Saya juga masuk litbang saja,” begitu jawabnya saat dilontarkan pertanyaan posisi di Scientiarum. Kali ini aku tidak heran jawabannya. Orang gila pasti akan bergabung dengan orang gila.

Yoga Prasetya, dia mantan pemimpin redaksi. Waktu itu aku masih menjadi fotografer pada saat dia yang memimpin redaksi. Dia tidak hadir pada saat rapat reorganisasi, tapi sebelumnya mengonfirmasi bahwa dia masih ingin di Scientiarum. Mungkin karena bosan di redaksi, dia pindah ke litbang. Atau mungkin karena memang ingin bergila-gila juga. Aku baru yakin dia gila setelah tadi sore dia menanggapi ucapan Fredy bahwa dia melihat buku dengan judul yang dia tidak yakin tepat judulnya, buku “Seribu Orang Gila”. Yoga menambahi, “Harusnya seribu satu, dua, tiga orang gila,” sambil menunjuk dirinya, aku, dan Satria.

Okay, di litbang semua mengangap dirinya orang gila, pikirku.

Sore ini kami mengadakan rapat, khusus litbang. Aku sebenarnya tidak senang bila dianggap pemimpin litbang, karena sebenarnya yang lain lebih pantas posisi ini. Aku selalu mengganggap diriku hanya media pewarta hasil pemikiran orang-orang litbang dengan divisi lain. Bukan karena mereka tidak bisa menjadi media pewarta juga, tapi karena rapat pimpinan yang hanya diikuti pemimpin umum, pemimpin redaksi, pemimpin bisnis dan pemimpin litbang. Nah, di situ aku berperan sebagai media pewarta litbang.

Sebelum rapat aku bingung bagaimana aku seharusnya membawa rapat. Ini orang-orang Crazylliant, sulit diprediksikan. Dengan sedikit gugup aku memulai pembicaraan program kerja kami. Sebelumnya juga aku berfikir rapat ini akan susah, tapi ternyata pikiranku itu terlalu gila. Kami baik-baik saja, malah sangat baik. Maksudnya baik adalah, rapat ini berjalan sesuai yang aku harapkan: serius tapi santai, tertawa-tawa tapi terarah sesuai tujuan. Kami merumuskan program kerja kami terperinci dengan sangat baik, sangat optimis. Banyak ide-ide baru muncul dan itu sangat baik, akan semakin memajukan Scientiarum. Kami malah sempat membantu Daniel (pemimpin redaksi) yang pada saat itu kebingungan me-manage anggotanya, mencari isu yang potensial menjadi berita. Kami pahlawan Daniel. Kami pahlawan Scientiarum. Kami yang terbaik. Baiklah, bagian itu sudah terlalu gila. Lupakan saja.

Walaupun ide-ide kami ini masih berupa wacana yang belum tahu penerapannya, tapi setidaknya aku cukup yakin modal optimis kami, modal crazy dan brilliant kami, dengan satu tujuan yang sama, adalah modal kami dalam memulai divisi penelitian dan pengembangan yang baru. Untuk diriku, aku diyakinkan bahwa aku akan menjadi media pewarta yang baik dengan pimpinan lain.

Benar, buntut kami mungkin tidak bisa dipegang dan kepala kami ke mana-mana, tapi bisa jadi gigitan kami membahayakan.

This entry was posted in Trivia. Bookmark the permalink.

9 Responses to Crazylliant

  1. Satria says:

    Orang gila pasti akan bergabung dengan orang gila. Hahahahah…

  2. Febri says:

    sayangnya tidak ada suster cantik di Litbang.. pengen di suntik neh.. LoL

  3. Fredy Guty says:

    Ketika membicarakan nama-nama para intelektual yang akan dibikin blog nya, saya mengusulkan nama Oentoeng Soerapati (mantan Dekan FH UKSW) untuk ditulis oleh Tian. Namun karena kegilaannya, dia malah tertawa mendengar nama itu, mungkin pikirnya Untung Surapati yang pernah menjadi pahlawan lokal Indonesia itu. hahaha….
    Itulah sedikit kegilaan. hahaha….

  4. Tian says:

    Hahahaha, dan itu juga ditulis WH yg jadi notulen haha..

    Untuk selanjutnya seperti yg dibilang Febri adalah mencari suster cantik, tp jng yg gila lho, hehehe..

  5. Sheila says:

    Hanya menambahkan..
    kegilaan yang sepertinya Kak Tian tak sadari (atau pura2 tidak tahu):
    karena dengan “alibi”mu, kak Tian berhasil lepas dari jabatan PU SA, sehingga dilimpahkan ke saya. Yang polos, tanpa dosa, dan tidak tahu apa2 ini.. T.T he…
    Waktu itu saya sedikit sebal (dan cukup sangat emosi) dengan kegilaan anda ini, tapi untunglah selanjutnya Kak Tian dan “the Crazylliant” yang anda pimpin ini sangatsangatsangat membantu saya dlm memimpin SA sekarang ini, Go Litbang!

  6. tian says:

    Hehehe..
    Tapi kita ini gila lho, jadi maklum klo tiba-tiba mandeg di jalan haha.. Tapi kami akan berusaha sebaik mungkin, hayah!?

  7. deviani d. says:

    sy berminat masuk litbang, asalkan gak jd gilaa .
    :D

  8. Satria says:

    Apa motivasi Dian masuk litbang?

  9. yeyen says:

    hahaha
    asix jg ya?kl bs sering2 d SA
    q akui,stiap ngobrol sm org2 tersebut d atas
    aq sering lp waktu
    emg ‘gila’ tp jg ‘brillian’
    tiap aq tanya malah balik nanya
    :D
    tp,makasi..
    ga hanya cri issue bwt liputan,
    tp jg ngasi issue bwt tgs2 q
    hehe
    sukses trz bwt litbang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>